Sabtu, 12 November 2016

CERPEN "ALONE"



ALONE
Tik … tikk … tikk ,
Rintik hujan mulai membasahiku yang sejak tadi hanya berdiam diri di taman kampus, bahkan suara teriakan temanku tak membuatku enggan untuk tetap menikmati hujan itu … ya, mungkin karena aku menyukai hujan. Mungkin hanya hujan yang mampu menutupi kesedihanku saat ini tanpa ada satu orangpun yang tau …
“Risa, ayo pulang. Hujan deres banget ini, ngapain masih disini?” sambil membawaku lari dari kerumunan air hujan. Seperti itulah dia, musuh yang paling bawel tapi perhatian.
“kenapa sih? Seru tau ujan – ujanan, sa.” Jawabku dengan santai.
“astaga ini anak, masih aja kayak anak kecil. Udah gede masih suka hujan – hujanan.” Omelnya panjang lebar.
Aku hanya menjawab omelan Asa dengan senyuman tanpa dosa, dan meninggalkannya begitu saja.

-----

Pukul 18.00
Aku mulai membuka mataku dan bergulat dengan bantal guling yang sedang bersamaku. Baru tersadar, cukup lama aku tertidur setelah pulang dari kampus siang tadi dan langsung kuserbu handphone yang ada di rak meja dekat tempat tidur, lalu kuketik sebuah pesan untuk Asa .
sorry baru bangun nih, jadi belajar kelompok kan hari ini ?
2 menit kemudian …
Aku udah nunggu kamu dari tadi diruang tamu, dasar kebo :p
Buruan bangun
Secara spontan akupun mulai berlari keluar kamar dan menuju ruang tamu setelah membaca pesan dari Asa. Tak lama kemudian aku menemukan sosok Asa yang sedang duduk diruang tamu dengan ayahku. Membicarakan sesuatu yang mungkin akupun tak mengerti, kuhampiri mereka dengan wajah sumringah.
“ngobrolin apaan hayoo? Kayaknya seru nih.” Celetukku
“kamu kepo ih jadi orang, mau tau aja … hahaha” balas Asa dengan wajah konyolnya.
“kalian ini kalau ketemu selalu saja bertengkar … akur gitu lho.” Nasihat ayah yang melihat tingkah kami berdua sambil meninggalkan kami. Kita berdua hanya tersenyum malu dan meneruskan perbincangan kami. 

-----

Krikk .. krikk .. krikk ,
suara jangkrik menemani setiap coletahan kita malam itu. Kita menghabiskan waktu untuk belajar dan bersendau gurau bersama, hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21:00 kemudian Asapun berpamitan pulang. Menyusuri malam yang dingin ditemani suara jangkrik yang mengiringi perjalanannya kembali kerumah.
Dia satu – satunya orang yang setia menemaniku sejak aku duduk di bangku SMP, orang yang begitu paham apapun yang ada pada diriku selain orangtuaku. Bagiku dia adalah sosok terbaik yang selalu memahami keadaanku, bahkan selalu menjadi penyemangat dalam hidupku.
“Dear Diary ….
Aku rasa, aku mulai menyukai hal – hal kecil yang sering kulakukan dengannya.
Apakah seperti ini rasanya ? akupun tak mengerti apa yang kurasakan saat ini
 yang aku tau aku mulai menyukainya J 
mulai kututup buku yang selalu menjadi tempat untuk mencurahkan segalanya yang tak bisa kuceritakan. Lalu perlahan kurebahkan tubuh yang mulai lelah ini di kasur dan mulai memejamkan mata.

-----

Pagi itu, aku mulai menyusuri jalan setapak diiringi siulan merdu burung – burung disekitarnya. Tak seperti biasanya, aku hanya berjalan seorang diri tanpa dia … iya dia “Asa”. Sudah beberapa hari ini aku tak mendengar kabar darinya bahkan message dan telepon dariku tak mendapatkan balasan, aku mulai menggerutu dalam hati “apa yang terjadi padanya? Dia tak pernah seperti ini? Aku takut jika … “ ku alihkan pikiranku dari hal – hal buruk, sepanjang perjalanan aku mulai berfikir apa yang harus kulakukan … namun, lamunanku buyar ketika aku melihat dia, sosok yang kucari beberapa hari ini muncul dihadapanku.
“hai bawel, kok sendirian ? kayak pendekar lu.” Sapa Asa dengan ledekannya.
“ini orang nggatau apa, bikin khawatir orang dari kemarin … tiba – tiba muncul bikin gara – gara .” gerutuku dalam hati dan membuang muka dari hadapannya. Aku tak menggubrisnya dan berjalan melewatinya begitu saja. “eh … Cuma dilewatin ini. Risa tungguin aku kek.” Sambil berlari menghampiriku.
Kita mulai berjalan beriringan dan aku mulai menanyakan beberapa hal dengannya . hingga kita berhenti di sebuah taman . “berhenti dulu yuk … duduk disitu kayaknya enak deh.” Pintanya
Aku hanya mengganggukan kepala dan mengikutinya.
“eh … aku mau cerita nih.” Jelasnya
“crita apaan sih, tumben banget kamu cerita .. hahah” jawabku
“emm … aku jadian lho. Wkwk” jelasnya dengan penuh bahagia
DAMN !!!
Sakit … mungkin itu yang pertama kali kurasakan setelah mendengarnya. Aku terdiam, tak tau harus berkata apa. Perlahan kupaksakan senyuman itu dan mulai bertanya …
“dengan siapa? Mengapa kau tak pernah menceritakannya padaku ?” aku mulai menahan rasa sesak yang mulai menyerang.
“Namanya Sasa, sorry aku nggak pernah cerita sama kamu. Takutnya entar kamu cemburu lagi … haha “ dengan ledekannya.
“ohh … “ senyuman yang benar – benar kupaksakan saat itu, aku pun berpamitan dengannya dan berusaha menjauh sejauh mungkin hingga dia tak tahu bahwa ada yang terluka karenanya.
Kususuri pagi itu penuh dengan rasa sakit .. BERHENTI ! hanya kata itu yang kutanamkan dalam hati , perlahan hujan mulai turun mengiringi kesedihan yang kurasakan saat ini dan hanya hujan yang tahu jika aku pernah terluka karenanya .

“Ketika aku berkata segalanya baik – baik saja
Dan aku pasti tidak membutuhkanmu,
Lihatkah ke dalam mataku? Aku berbohong”


--TAMAT--